Minggu, 18 Januari 2015

TUJUH INDIKATOR KEBAHAGIAAN DI DUNIA

1. QOLBUN SYAKIRUN (hati yg selalu bersyukur). Artinya selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.(QS 13:28, 2:152, 16:18, 34:14, 55:13, 14:7)

2. AL-AZWAJU SHALIHAH (pasangan hidup yang sholeh). Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan, suasana rumah dan keluarga yg sholeh pula(QS 51:49, 17:32, 24:32, 24:26)

3. AL-AULADUL ABRAR (anak yg sholeh/sholehah). Do'a anak yg sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah SWT, berbahagialah orang tua yang memiliki anak sholeh/sholehah.(QS 17:23, 31:14, 46:15, 29:8, 25:74)

4. AL-BAIATU SHOLIHAH (lingkungan yg kondusif untuk iman kita). Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang sholeh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.(QS 4:69, 51:55, 26:214, 5:2)

5. AL-MALUL HALAL (harta yang halal). Bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup. Berbahagialah orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.(QS 2:267, 43:36-37, 2:269, 2:155)

6. TAFAKUH FID-DIEN (semangat untuk memahami agama). Dengan belajar ilmu agama, akan. semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada Allah SWT dan Rasulnya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.(QS 45:20, 3:138, 5:16, 4:174, 2:269)

7. UMUR YANG BAROKAH
Artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Inilah semangat hidup orang2 yang barokah umurnya. (QS 2:96, 35:37, 36:68, 225).

Semoga kita semua dikaruniai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. 
Aamiinn ya Rabbal Alamin.

Mengingat Kematian


Assalammu'alaikum Wr. Wb.

Segala Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang sampai hari ini kita masih dipercaya untuk menerima karunia dan nikmatNyaNYA yang begitu besar. Terutama nikmat iman, islam dan kecintaan terhadap ilmu sehingga kita dapat berkumpul kembali di acara pengajian kali ini.
Salawat dan salam tak lupa tercurahkan kepada Baginda Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita untuk hijrah dari zaman jahiliah ke zaman yang terang benderang dan penuh kasih sayang. Semoga salawat dan salam tercurahkan pula kepada para sahabat, keluarga serta para pengikutnya yang setia menegakkan sunnah-sunnahNya hingga akhir zaman.
Yang terhormat Guru Agama SMAN 48, Bapak H. Syahrullah serta teman-teman yang Insya Allah dalam rahmat dan perlindungan Allah SWT. Izinkan saya pada kesempatan kali ini, untuk  membawakan ceramah dengan tema “Mengingat Kematian”
Di dalam ayat 35 surat al-Anbiyaa yang berbunyi:

“ tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.”

Kematian bukanlah hal yang asing di telinga, pasti kita sering mendengar tentang kematian ataupun mendengar kerabat, teman, tetangga atau saudara kita yang lain yang telah meninggal dunia. Seperti ayat yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa “setiap yang berjiwa akan merasakan “Mati”. Tentu Insya Allah hadirin semua disini masih dalam keadaan hidup dan tentu akan merasakan mati, namun apakah kita mengetahui kapan ajal akan menjemput kita? Jawabannya pasti tidak. Mengapa demikian? Karena kematian merupakan takdir yang telah ditetapkan Allah SWT dan tentu menjadi rahasia Allah yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk dokter sekalipun yang dapat mendiagnosis segala penyakit.
Kenapasih kita harus perbanyak mengingat kematian toh padahal sekarang kita masih hidup? Boleh jadi kita masih hidup sekarang, tetapi setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, semenit, sedetik apakah kita akan masih hidup?belum tentu, karna segala kemungkinan-kemungkinan bisa saja terjadi. Dan oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai makhluk yang berjiwa mengingat kematian sehingga kita akan lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang Insya Allah mati dalam Khusnul Khotimah.
Teringat suatu riwayat, suatu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh salah seorang sahabat : " Ya Rasulullah ketika engkau telah tiada maka kepada siapa lagi hamba meminta NASEHAT?. Rasul SAW menjawab: Wahai sahabat sesungguhnya aku telah meninggalkan 2 NASEHAT kepada kamu : Nasehat yang pertama adalah nasehat yang berbicara dan nasehat yang kedua adalah nasehat yang diam .Lalu sahabat kemudian bertanya lagi kepada Rasulullah SAW: “ya.. Rasulullah apakah nasehat berbicara itu ya Rasul dan apakah nasehat yang diam itu ya.. Rasulullah. Rasulullah kemudian menjawab : wahai sahabatku nasehat yang berbicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu adalah kematian .
  
Al-Kays (orang cerdas) ialah predikat bagi hamba yang mampu menahan diri dari hawa nafsu dan mempersiapkan hari setelah kematian. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, ya Rasulullah siapakah orang yang paling berakal dan siapakah orang yang paling bijaksana .?.Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”

Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga. Tak ada sesuatupun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu, selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya. Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1,

"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)."

Jika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, "Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan." Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan. Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, "Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul…."

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya. Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir. Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran. Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naïf kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa. Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga. Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga. Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan. Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, dengan menyebut “ad-Dunya Mazra’atul Akhirah”
(dunia adalah ladang akhirat)

 "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia"

"SEBELUM AJAL MENJEMPUT"

ALLAH ku bersujud ampuni segala dosa..
Tiada daya upaya ku berserah padaMu..
Lautan kemaksiatan telah aku kerjakan..
Buih2 dosanya membelenggu menjerat langkah ini..
ALLAH ku berlutut jauhkan aku dari noda..
Ampuni hamba yang tak mungkin kuat menahan pedihnya..
Beribu kesalahan telah aku lakukan..
Berjuta nafsu dunia terhirup bersama nafas ini..
ALLAH ku bersimpuh berdoa mohon ampunan..
Duka sesal mengalir membasahi pelupuk mata..
Air kesucian tak pernah membasuh raga ini..
Jari2 penuh nista tak pernah menjamah firmanMu..
ALLAH ku bertaubat menyesali semua kesalahan..
Bujuk rayu setan telah menjebakku dalam silaunya dunia..
Angkuhnya jiwa menutup mata hati dan perasaan..
Menyakiti sesama kulakukan tanpa nurani..
ALLAH ku berserah semua kan kembali kepadaMu..
Dosa dan kesalahan pasti akan diperhitungkan..
Aku berlindung dari panas siksaan api neraka..
Beri ampunan aku menuju jalan ridhoMu..
Hapuskan kesalahan.. Hapuskan dosaku..
Berikan rahmatMu arungi sisa hidupku..
Lindungi hambaMu.. Lindungi dari siksaan..
Terimalah taubatku sebelum ajal menjemputku..
Astaghfirulloh hal adzim... .

Demikian ceramah saya kali ini, semoga apa yang telah saya sampaikan bermanfaat untuk hadirin sekalian serta untuk pribadi saya sendiri. Kurang lebihnya saya mohon maaf
Hadaanallahu wa iyyakum ajma’iin

Wassalammu’alaikum  Wr. Wb.