Assalammu'alaikum Wr. Wb.
Segala Puji dan syukur
kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang sampai hari ini kita masih dipercaya
untuk menerima karunia dan nikmatNyaNYA yang begitu besar. Terutama nikmat
iman, islam dan kecintaan terhadap ilmu sehingga kita dapat berkumpul kembali
di acara pengajian kali ini.
Salawat dan salam tak
lupa tercurahkan kepada Baginda Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita untuk
hijrah dari zaman jahiliah ke zaman yang terang benderang dan penuh kasih
sayang. Semoga salawat dan salam tercurahkan pula kepada para sahabat, keluarga
serta para pengikutnya yang setia menegakkan sunnah-sunnahNya hingga akhir
zaman.
Yang terhormat Guru
Agama SMAN 48, Bapak H. Syahrullah serta teman-teman yang Insya Allah dalam
rahmat dan perlindungan Allah SWT. Izinkan saya pada kesempatan kali ini,
untuk membawakan ceramah dengan tema
“Mengingat Kematian”
Di dalam ayat 35 surat
al-Anbiyaa yang berbunyi:
“
tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada
kamilah kamu dikembalikan.”
Kematian
bukanlah hal yang asing di telinga, pasti kita sering mendengar tentang
kematian ataupun mendengar kerabat, teman, tetangga atau saudara kita yang lain
yang telah meninggal dunia. Seperti ayat yang telah disampaikan sebelumnya,
bahwa “setiap yang berjiwa akan merasakan “Mati”.
Tentu Insya Allah hadirin semua disini masih dalam keadaan hidup dan tentu akan
merasakan mati, namun apakah kita mengetahui kapan ajal akan menjemput kita? Jawabannya
pasti tidak. Mengapa demikian? Karena kematian merupakan takdir yang telah
ditetapkan Allah SWT dan tentu menjadi rahasia Allah yang tidak diketahui oleh
siapapun termasuk dokter sekalipun yang dapat mendiagnosis segala penyakit.
Kenapasih
kita harus perbanyak mengingat kematian toh padahal sekarang kita masih hidup?
Boleh jadi kita masih hidup sekarang, tetapi setahun, sebulan, seminggu,
sehari, sejam, semenit, sedetik apakah kita akan masih hidup?belum tentu, karna
segala kemungkinan-kemungkinan bisa saja terjadi. Dan oleh karena itu, sudah
sepatutnya kita sebagai makhluk yang berjiwa mengingat kematian sehingga kita
akan lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang Insya Allah mati
dalam Khusnul Khotimah.
Teringat
suatu riwayat, suatu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh salah seorang sahabat :
" Ya Rasulullah ketika engkau telah tiada maka kepada siapa lagi hamba
meminta NASEHAT?. Rasul SAW menjawab: Wahai sahabat sesungguhnya aku telah
meninggalkan 2 NASEHAT kepada kamu : Nasehat yang pertama adalah nasehat yang
berbicara dan nasehat yang kedua adalah nasehat yang diam .Lalu sahabat kemudian
bertanya lagi kepada Rasulullah SAW: “ya.. Rasulullah apakah nasehat berbicara
itu ya Rasul dan apakah nasehat yang diam itu ya.. Rasulullah. Rasulullah kemudian
menjawab : wahai sahabatku nasehat yang
berbicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu adalah kematian .
Al-Kays
(orang cerdas) ialah predikat bagi hamba yang mampu menahan diri dari hawa
nafsu dan mempersiapkan hari setelah kematian. Sebagaimana Rasulullah SAW
pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, ya Rasulullah siapakah orang yang
paling berakal dan siapakah orang yang paling bijaksana .?.Rasulullah SAW
menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat
kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik
persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”
Kematian
mengingatkan bahwa waktu sangat berharga. Tak ada sesuatupun buat seorang
mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu, selain kematian.
Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan
berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.
Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang
menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun
waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam
surah Al-Anbiya ayat 1,
"Telah
dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada
dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)."
Jika
jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba,
lisan tergerak untuk mengatakan, "Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja.
Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan." Tapi sayang,
permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada
perundingan. Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, "Dan
berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang
azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri
tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi
seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul…."
Kematian
mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Kalau kehidupan dunia bisa
diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran.
Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan
‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.
Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan
tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal,
sandiwara sudah berakhir. Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan
pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang
kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang
menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan
berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk
dimasukkan kedalam laci-laci peran. Teramat naif kalau ada manusia yang
berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa
selamanya. Pun begitu, teramat naïf kalau ada manusia yang merasa akan terus
menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua
adalah kematian.
Kematian
mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa. Fikih Islam menggariskan kita
bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain
kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya
akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu
pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh
kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri
ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta
dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi
pun bersama sesuatu yang tak berharga. Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik
sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada
Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita
bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu,
kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.
Kematian
mengingatkan bahwa hidup sementara Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan
anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan
pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu
memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. Ketika sapaan kematian
mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang
makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah
kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang,
dan kemudian berakhir.
Kematian
mengingatkan bahwa hidup begitu berharga. Seorang hamba Allah yang mengingat
kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak
ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan
ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh.
Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus
dikembalikan. Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan
surah Al-Qashash ayat 77, dengan menyebut “ad-Dunya
Mazra’atul Akhirah”
(dunia
adalah ladang akhirat)
"Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia"
"SEBELUM AJAL MENJEMPUT"
ALLAH ku bersujud ampuni segala dosa..
Tiada daya upaya ku berserah padaMu..
Lautan kemaksiatan telah aku kerjakan..
Buih2 dosanya membelenggu menjerat langkah
ini..
ALLAH
ku berlutut jauhkan aku dari noda..
Ampuni
hamba yang tak mungkin kuat menahan pedihnya..
Beribu
kesalahan telah aku lakukan..
Berjuta
nafsu dunia terhirup bersama nafas ini..
ALLAH ku bersimpuh berdoa
mohon ampunan..
Duka sesal mengalir membasahi
pelupuk mata..
Air kesucian tak pernah
membasuh raga ini..
Jari2 penuh nista tak pernah
menjamah firmanMu..
ALLAH
ku bertaubat menyesali semua kesalahan..
Bujuk
rayu setan telah menjebakku dalam silaunya dunia..
Angkuhnya
jiwa menutup mata hati dan perasaan..
Menyakiti
sesama kulakukan tanpa nurani..
ALLAH ku berserah semua kan
kembali kepadaMu..
Dosa dan kesalahan pasti akan
diperhitungkan..
Aku berlindung dari panas
siksaan api neraka..
Beri ampunan aku menuju jalan
ridhoMu..
Hapuskan kesalahan.. Hapuskan
dosaku..
Berikan rahmatMu arungi sisa
hidupku..
Lindungi hambaMu.. Lindungi
dari siksaan..
Terimalah taubatku sebelum
ajal menjemputku..
Astaghfirulloh
hal adzim... .
Demikian ceramah saya kali ini,
semoga apa yang telah saya sampaikan bermanfaat untuk hadirin sekalian serta
untuk pribadi saya sendiri. Kurang lebihnya saya mohon maaf
Hadaanallahu wa iyyakum ajma’iin
Wassalammu’alaikum Wr. Wb.